Kamis, 14 Januari 2016

Contoh Skripsi Analisa Pengaruh Motivasi Terhadap Prestasi Kerja ...............


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang semakin pesat, dimana manusia tetap memegang peranan yang menentukan dalam setiap kegiatan di dunia usaha. Oleh karena itu, unsur  manusia sangat diperlukan bagi organisasi atau instansi dalam pelaksanaan tugas usahanya. Manusia menjadi penggerak dan penentu jalannya organisasi atau instansi, maka perhatian dari pimpinan sangat diperlukan. Betapa pentingnya perencanaan dan pengawasan dari pimpinan sangat diperlukan tanpa didukung oleh semangat kerja dari guru dan karyawan, maka tujuan dari organisasi atau instansi sulit dicapai pada tingkat yang optimal.
Pada dasarnya setiap instansi pemerintah maupun swasta, bukan saja mengharapkan guru dan karyawan yang mampu, cakap, dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan mencapai hasil yang optimal.
Prestasi guru dan karyawan salah satu indikator keberhasilan sebuah organisasi atau instansi dalam pencapaian tujuannya. Salah satu usaha yang tepat untuk dilakukan agar merekan mau bekerja dengan giat adalah memberikan motivasi.
Menurut Ranupandojo dan Husnan, motivasi dirumuskan sebagai perilaku yang ditujukan pada sasaran. Motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan, motivasi berkaitan erat dengan kepuasan pekerja dan perfomansi pekerja.[1]
Prestasi kerja adalah hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya (Hasibuan:1991:105).
Sedang timbulnya prestasi dipengaruhi oleh beberapa factor pendorong, baik yang berasal dari luar individu maupun dari dalam individu. Daya perangsang, daya pendorong, motivasi yang mendorong karyawan untuk mau ikut bekerja dengan giat berbeda antara guru, karyawan satu dengan lainnya. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan motif, tujuan, dan kebutuhan masing-masing guru dan karyawan untuk bekerja. Untuk itu kebutuhan karyawan baik yang bersifat material maupun non materiil hendaknya dipenuhi sesuai dengan harapannya apabila prestasi kerja guru dan karyawan diharapkan tinggi.
Melihat pentingnya pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja karyawan, maka sudah sepatutnya motivasi diberikan kepada setiap organisasi atau instansi, baik instansi swasta maupun instansi pemerintah. Sehingga pemberian motivasi adalah mutlak diperlukan untuk mendorong guru dan karyawan dalam berprestasi yang pada akhirnya akan memperlancar tugas-tugas sebuah organisasi atau instansi. Begitu pula SMK Muhammdiyah 1 Ngawi, sebuah instansi swasta yang pada saat ini telah mengalami perkembangan terutama dari segi kualitas tenaga edukatif maupun siswa sedangkan dari segi kuantitas siswa tahun pelajaran 2013-2014 mengalami peningkatan 20%.
Dengan bertitik tolak dari pandangan diatas yang menyatakan motivasi mempunyai hubungan terhadap prestasi kerja guru dan karyawan, maka penulis tertarik untuk  membuat sebuah penelitian tentang pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja guru dan karyawan. Adapun objek yang peniliti pilih adalah SMK Muhammadiyah 1 Ngawi.
Berdasarkan latarbelakang diatas penulis membuat penelitian dengan judul “ Analisa Pengaruh Motivasi Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi
1.2  Rumusan Masalah
?
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja guru dan karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi.
2.      Untuk melengkapi tugas dan memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Ekonomi Universitas Soerjo Ngawi.
1.4  Manfaat Penelitian
2.      Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat member masukan kepada sekolah untuk menentukan kebijakan yang lebih tepat dalam meningkatkan prestasi kerja guru dan karyawan berdasarkan motivasi yang diberikan oleh seorang pemimpin. Sekolah dapat memberikan motivasi terhadap guru dan karyawan agar bekerja lebih baik sehingga menunjukkan prestasi yang baik pula.
3.      Bagi peneliti, dapat semakin mendalami permasalahan mengenai motivasi terhadap prestasi kerja guru dan karyawan serta mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh selama kuliah untuk memecahkan massalah tersebut sekaligus mengaplikasikan dalam pekerjaan.



[1] Ranupandojo dan Husnan

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.  Pengertian Motivasi     
Setiap  guru dan karyawan  mempunyai  motivasi  yang  berbeda-beda  untuk  bekerja  dengan  lebih  baik.  Tidak  dapat  dipungkiri  lagi  bahwa  berhasil  tidaknya  operasional  perusahaan  dalam  mencapai  tujuannya  adalah ditentukan oleh kepemimpinan yang baik dari seorang pemimpin di dalam  memberikan  motivasi  kepada  karyawannya.  Peranan  motivasi  di  dalam suatu perusahaan sangat penting, sehingga motivasi dapat diartikan berbeda  oleh  setiap  orang  sesuai  dengan  tempat  dan  keadaan  dari  masing-masing orang.  Untuk  lebih  jelasnya  dibawah  ini  akan  penulis  kutipkan  beberapa pendapat mengenai pengertian motivasi. 
Motivasi  secara  umum  mempunyai  pengertian,  suatu  kebijaksanaan  
oleh  pimpinan  perusahaan  sebagai  pendorong  kerja  karyawan  agar  dapat bekerja lebih produktif guna mencapai tujuan yang diharapkan perusahaan.  
Pengertian  motivasi  menurut  Ranupandojo  dan  Husnan  (1990:197),  menyatakan  bahwa  motivasi  adalah  merupakan  proses  untuk  mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang kita inginkan.  
Menurut  Gomes  (1990:177),  motivasi  dirumuskan  sebagai  perilaku 
yang ditujukan pada sasaran. Motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang
dilakukan  oleh  seseorang  dalam  mengejar  suatu  tujuan,  motivasi  berkaitan 
erat dengan kepuasan pekerja dan performansi pekerja. 
Sedangkan  pengertian  motivasi  menurut  Wahjosumidjo  (1992:177), motivasi  ialah  dorongan  kerja  yang  timbul  pada  diri  seseorang  untuk  berperilaku dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Dalam bukunya Malayu S.P Hasibuan (1992:184), pengertian motivasi  menurut  Edwin  B.  Flippo  adalah  suatu  keahlian  dalam  mengarahkan  pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga tercapai  keinginan para pegawai sekaligus tercapai tujuan perusahaan.
Dari  pengertian  diatas  terdapat  adanya  beberapa  batasan  antara 
lain :
a.      Motif  adalah  tenaga  pendorong  yang  mendorong  manusia  untuk bertindak  atau  suatu  tenaga  didalam  diri  manusia  yang  menyebabkan manusia bertindak. 
b.     Motivasi  ditinjau  dari  katanya  berarti  pemberian  motif.  Motivasi  dapat   pula  diartikan  faktor  yang  mendorong  orang  untuk  bertindak  dengan  cara tertentu. 
c.      Motivasi  kerja  adalah  sesuatu  yang  menimbulkan  dorongan  atau semangat kerja (pendorong semangat kerja).
d.     Incentive  merupakan  alat  otivasi,  sarana  motivasi,  sarana  penimbul  motif atau sarana yang menimbulkan dorongan. 




2.1.1. Teori Motivasi
Menurut  Heidjrachman  Ranupandojo  dan  Suad  Husnan  (1990:188), 
teori motivasi terdiri dari :
a.       Content Theory 
Teori ini menekankan arti pentingnya pemahaman faktor-faktor yang ada di dalam individu yang menyebabkan mereka bertingkah laku tertentu. Manajer diharuskan  dapat  menebak  kebutuhan  para  karyawan,  dengan mengamati  perilaku  mereka  dan  kemudian  memilih  cara  apa  yang bisa digunakan supaya mereka mau bertindak sesuai dengan keinginan manajer tersebut.
b.       Process Theory 
Process  theory   bukannya  menekankan  pada  isi  kebutuhan  dan sifat  dorongan dari kebutuhan tersebut, tetapi pendekatan ini menekankan pada bagaimana dan dengan tujuan apa setiap individu dimotivisir. Dasar teori ini adalah  adanya  pengharapan  yaitu  apa  yang  dipercaya  oleh  individu  akan mereka  peroleh  dari  tingkah  laku  mereka.  Faktor  tambahan  dari  teori  ini adalah kekuatan dari preferensi individu terhadap hasil yang diharapkan. 
c.       Reinforcement Theory  
Teori ini menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku di masa yang  lalu mempengaruhi tindakan di masa yang akan datang dalam suatu siklus proses belajar. Dalam pandangan teori ini individu bertingkah laku tertentu  karena  dimasa  yang  lalu  mereka  belajar  bahwa  perilaku tertentu  akan berhubungan dengan hasil yang menyenangkan dan perilaku tertentu akan menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan. Karena umumnya individu lebih  suka  akibat  yang  lebih  menyenangkan,  mereka  umumnya  akan mengulangi  perilaku  yang  akan mengakibatkan  konsekuensi  yang  menyenangkan.
Menurut  Wahjosumidjo  (1992:195-197),  teori  motivasi  Mc.  Gregor  dengan  konsepnya  yang  terkenal  dengan  teori  X  dan  teori  Y,  secara  garis  besar teori tersebut memandang manusia sebagai berikut : 
Teori X terdiri dari :
a.          Manusia  pada  dasarnya  malas.  Mereka    memilih  untuk  tidak mengerjakan apa-apa.
b.         Manusia bekerja untuk mengejar uang dan status.
c.          Agar manusia produktif, harus ditakuti untuk dipecat atau dihukum .
d.         Manusia  adalah  anak-anak  yang  tumbuh  besar  dan  sangat  tergantung pada pimpinan.
e.          Orang  mengharapkan  dan  tergantung  pada  atasan,  mereka  tidak  mau berpikir untuk diri mereka sendiri.
f.          Orang  perlu  diperintah,  ditunjukkan  dan  dilatih  dengan  metode  yang  tepat.
g.         Orang perlu pengawasan ketat untuk bekerja baik dan menjauhkan dari  kesalahan.
h.         Orang hanya berminat terhadap kebutuhan sendiri.
i.           Orang perlu instruksi khusus tentang yang harus dikerjakan.
j.           Orang senang diperlakukan secara terhormat.
k.         Orang pada hakekatnya terkotak-kotak.
l.           Orang sulit berubah, mereka memilih tinggal pada situasi lama.
m.       Kerja  adalah  primer  dan  harus  dikerjakan.  Orang  dipilih  dan  dilatih untuk bekerja. Manusia harus mengabdi pekerjaan.
n.         Orang terbentuk karena keturunan. Setelah dewasa mereka merasa statis.
o.         Orang perlu diilhami, didorong atau ditarik untuk maju. 

Teori Y terdiri dari :  
a.             Manusia pada dasarnya aktif. Mereka merumuskan tujuan dan mengejar cita-cita.
b.            Manusia  mengejar  kepuasan  dalam  bekerja,  bangga  mencapai prestasi, terangsang tantangan baru dan lain-lain.
c.             Agar manusia produktif, mereka dirangsang untuk tujuan mereka sendiri  dan tujuan organisasi. Manusia biasanya dewasa dalam pemikiran, punya
d.            tanggung jawab, dan kemampuan untuk memenuhi diri sendiri dan berdiri sendiri.
e.             Orang  melihat  dan  merasa  bahwa  yang  dibutuhkan  dapat  dicapainya  sendiri.
f.             Orang  yang  mengerti  dan  paham  tentang  yang  dikerjakan  dapat meningkatkan dan memperbaiki metode kerja mereka sendiri.
g.            Orang  perlu  pengakuan  bahwa  mereka  dihargai  sebab  tahu  tanggung jawab dan bisa mengoreksi diri sendiri.
h.            Orang  ingin  memberi  arti  pada  hidupnya  dengan  mengabdi  pada masyarakat negara dan bangsa.
i.              Orang  ingin  meningkatkan  pengertian  terhadap  yang  dilakukan  dan lingkungannya.
j.              Orang menghargai terhadap sesamanya.
k.            Orang  pada  hakikatnya  terintegrasi  antara  bekerja  dan  mengisi  waktu senggang (terluang).
l.              Orang pada hakikatnya jemu pada hal-hal yang monotone dan rutin.
m.          Mereka  ingin  menikmati  pengalaman  baru.  Pada  hakikatnya  orang  itu  kreatif.
n.            Orang  ingin  merealisasikan  cita-citanya.  Kerja  harus  dipolakan,  diubah  dan diabadikan untuk manusia.
o.            Orang  selalu  tumbuh  dan  berkembang.  Tak  pernah  terlambat  untuk belajar. Mereka menikmati pertambahan pengertian dan kesanggupan.
p.            Orang perlu diberi kebebasan, semangat dan diajak serta dibantu untuk  maju. 
Dari teori Mc. Gregor, diharapkan manajer dapat mencapai tujuannya  dengan  menggunakan  teori  Y  yang  lebih  terarah  pada  suatu  keselarasan  antara tujuan individu dan tujuan perusahaan, daripada penaklukan tujuan  yang satu oleh tujuan lainnya.
Sedangkan menurut Basir Barthos (1995:5), menyebutkan bahwa teori  kebutuhan antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Teori Abraham Maslow 
Maslow  menyatakan  pada  suatu  hirarki  kebutuhan  manusia  yang  bertingkat. Hirarki Kebutuhan manusia menurut Maslow adalah :
a.       Phisiological Needs
Kebutuhan  yang  paling  mendasar  pada  manusia  dimanivestasikan  ke dalam tiga hal yaitu sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan primer untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan biologis.
b.      Safety Needs 
Setelah  kebutuhan  primer  terpenuhi  manusia  akan  mencari kebutuhan yang lain yaitu kebutuhan akan perlindungan dari bahaya dan ancaman (bencana,  penyakit,  perang,  kemiskinan,  kelaparan,  sakit,  dll)  kondisi kerja serta kebutuhan akan perlakuan yang adil dan jaminan hari tua.
c.       Social Needs 
Kebutuhan  social  yang  meliputi  rasa  diterima  orang  lain,  kebutuhan untuk maju,  tidak gagal dan kebutuhan rasa ikut serta.
d.      Esteem Needs
Merupakan  kebutuhan  manusia  akan  penghargaan,  prestasi dan pengakuan dari pihak lain.
e.       Self Actualization
Kebutuhan  dari  kepuasan  diri  yang  merupakan  realisasi  secara menyeluruh dari potensi seseorang. Maslow  berpendapat bahwa  tingkah  laku  atau  tindakan  masing- masing  individu  pada  suatu  saat  tertentu,  biasanya  ditentukan  oleh kebutuhan yang paling mendesak. Oleh karena itu setiap manajer yang ingin memotivasi bawahannya perlu memahami hirarki kebutuhan manusia. 
Teori Maslow mengasumsikan  bahwa  orang  berusaha  memenuhi kebutuhan  yang  lebih  pokok  (fisiologis)  sebelum  berusaha  memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (realisasi tinggi). Maslow (1995: 7) menyatakan bahwa kebutuhan tidak muncul secara bersama-sama pada saat yang sama. 
Kebutuhan ynag lebih rendah dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan yang  lebih  tinggi  mulai  mengendalikan  prilaku  seseorang.  Jika  suatu kebutuhan  sudah  terpenuhi  maka  behentilah  daya  motivasinya  atau kebutuhan tersebut tidak dapat lagi memotivasi prilaku. 
Model  Maslow  ini  dapat  dilihat  dalam  pergantian  dan  perubahan terus-menerus  yang  jelas  tentang  jenjang  karir  karyawan. Peningkatan penghasilan  telah  memungkinkan  banyak  karyawan  mendapatkan  latihan (training )  untuk  suatu  jabatan  baru.  Jika  pada  urutan  yang  lebih  rendah terpenuhi,  orang  dapat  beralih  dari  pekerjaan-pekerjaan  yang  rutin  ke pekerjaan  yang  diharapkan  dapat  memuaskan  kebutuhan  pada  tingkatan yang lebih tinggi.  Dengan adanya kebutuhan, orang akan selalu berkembang dan maju. Sehingga cara apapun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
2.1.2.  Tujuan Motivasi 
Menurut  Hasibuan  (1992:196)  bahwa  tujuan  motivasi  manajemen antara lain :
a.       Untuk mengubah perilaku pegawai sesuai dengan keinginan pemimpin.
b.      Untuk meningkatkan kegairahan kerja pegawai.
c.       Untuk meningkatkan disiplin pegawai.
d.      Untuk menjaga kestabilan pegawai.
e.       Untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai.
f.       Untuk meningkatkan prestasi pegawai.
g.      Untuk mempertinggi moral pegawai.
h.      Untuk  meningkatkan  rasa  tanggung  jawab  pegawai  pada  tugas-     tugasnya.
i.        Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
j.        Untuk memperdalam kecintaan pegawai terhadap perusahaan.
k.      Untuk memperbesar partisipasi pegawai terhadap perusahaan

2.1.3.  Alat-alat Motivasi 
Alat-alat  motivasi  (daya  perangsang)  menurut  Malayu Hasibuan (1992:195) yang diberikan kepada bawahan adalah :
a.       Material Incentive
Adalah  motivasi  yang  bersifat  material  sebagai  imbalan  prestasi  yang diberikannya. Yang  termasuk  material  incentive   ialah  upah,  barang-barang  dan yang sejenis lainnya.
b.      Non material incentive
Adalah motivasi  (daya perangsang) yang tidak berbentuk materi. Yang  termasuk  non  material  incentive  ialah  penempatan  yang  tepat,  latihan yang sistematis,  promosi  yang  obyektif,  pekerjaan  yang  terjamin,  piagam penghargaan, bintang jasa, perlakuan yang wajar dan yang sejenis lainnya. 
2.1.4. Jenis Motivasi 
Jenis motivasi menurut Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan (1990:204) pada dasarnya dibagi menjadi dua macam yaitu :
1.      Motivasi positif 
Adalah  proses  untuk  mencoba  mempengaruhi  orang  lain  agar menjalankan satu yang kita inginkan dengan cara memberikan kemungkinan untuk  memperoleh  hadiah,  mungkin  berwujud  tambahan uang,  tambahan penghargaan dan lain sebagainya.
  1. Motivasi negatif
Adalah  proses  untuk  mempengaruhi  seseorang  agar  mau  melakukan  sesuatu yang kita inginkan, tetapi teknik dasar yang digunakan adalah lewat  kekuatan ketakutan.
2.1.5.  Model Motivasi
Menurut  Heidjrachman  dan  Suad  Husnan  (1990:201-202),  ada tiga  model motivasi yaitu :
1.      Model Tradisional
Sesuai dengan aliran ini aspek yang sangat penting dari pekerjaan para  manajer adalah membuat para karyawan bisa menjalankan pekerjaan mereka yang  membosankan  dan  berulang-ulang  dengan  cara  yang  paling  efisien. Untuk  memberikan  dorongan  kepada  karyawan  agar  melakukan  pekerjaan mereka  dengan  berhasil,  para  manajer  menggunakan  sistem  upah  insentif, semakin  banyak  mereka  menghasilkan,  semakin  besar  penghasilan  mereka. Alat motivasi ini didasarkan atas anggapan bahwa para pekerja sebenarnya adalah pemalas dan bisa didorong hanya dengan imbalan keuangan.
2.      Model Hubungan Manusiawi
Bahwa kontak sosial yang dialami dalam bekerja merupakan hal yang  sangat penting bagi mereka, dan kebosanan serta kerutinan pekerjaan hal-hal yang  mengurangi  motivasi  mereka  dalam  bekerja.  Para  manajer  bisa memotivisir para karyawan dengan mengakui kebutuhan sosial mereka dan dengan  membuat  mereka  merasa  penting  dan  berguna.  Sesuai  dengan pendapat  ini,  maka  organisasi  mencoba  untuk  mengakui  kebutuhan  social para  karyawan,  dan  mencoba  memotivisir  mereka  dengan  meningkatkan kepuasan  kerjanya.  Para  karyawan  diberi  lebih  banyak kebebasan untuk mengambil keputusan dalam menjalankan pekerjaan mereka.
3.      Model Sumber Daya Manusia
Bahwa  para  karyawan  sebenarnya  mempunyai  motivasi  yang  sangat  beraneka ragam, bukan hanya motivasi karena uang ataupun keinginan akan kepuasan,  tetapi  juga  kebutuhan  untuk  berprestasi  dan  mempunyai  arti dalam  bekerja.  Mereka  berpendapat  bahwa  sebagian  besar  individu  sudah mempunyai  dorongan  untuk  menyelesaikan  pekerjaan  dengan  baik,  dan  tidak selalu para karyawan memandang pekerjaan sebagai sesuatu hal yang tidak  menyenangkan.  Bahkan  pada  umumnya  para  pekerja  akan memperoleh kepuasan karena prestasi yang tinggi.
2.1.6.      Faktor Yang  Mempengaruhi Motivasi
Menurut teori Herzberg dalam buku M. Manullang (1993:151) faktor- faktor yang berperan sebagai motivator terhadap pegawai yaitu yang mampu memuaskan dan mendorong orang untuk bekerja baik, terdiri dari :
1.      Achievement  (keberhasilan pelaksana)
2.       Recognation  (pengakuan)
3.      The work it self  (pekerjaan itu sendiri)
4.      Responsibilities  (tanggung jawab)
5.      Advancement  (pengembangan) 
Teori  motivasi  yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow. Dengan mengemukakan indikator-indikator dalam motivasi adalah sebagai berikut:
1.      Pemenuhan kebutuhan fisik, yang meliputi kondisi tempat kerja dan bagi pengukuran dilakukan dengan meminta tanggapan responden.  
2.  Pemenuhan  kebutuhan  rasa  aman,  yang  meliputi  jaminan  social  dan  jaminan hari tua. 
3.  Pemenuhan  kebutuhan  soaial,  yang  meliputi  hubungan  interpersonal dengan atasan dan bahan/kerja.
4.   Pemenuhan  kebutuhan  penghargaan  yang  meliputi  pemberian  bonus,  penghargaan, tanggungjawab dan promosi jabatan. 
5.   Pemenuhan  kebutuhan  aktualisasi  diri,  yang  meliputi  prestasi  dalam    pekerjaan, kesempatan kreatifitas, pertumbuhan dan pengembangan diri.
Rangkaian  faktor-faktor  motivator  di  atas,  melukiskan hubungan  seseorang  dengan  apa  yang  dikerjakannya  yaitu  kandungan  kerjanya, prestasi  pada  tugasnya,  penghargaan  atas  prestasi  yang  dicapainya  dan peningkatan tugasnya.
2.2.  Pengertian Prestasi kerja
Prestasi kerja menurut Agus Dharma (1985:1) mendifinisikan sebagai “sesuatu  yang  dikerjakan  atau  produk/jasa  yang  yang  dihasilkan  atau diberikan  oleh  seseorang  atau  sekelompok  orang”.  Sedangkan  menurut Hasibuan(1991:  105)  bahwa  prestasi  adalah  “suatu  hasil  kerja  yang  dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya”.
Menurut Handoko (1991: 102) bahwa prestasi kerja adalah “kuantitas dan  kualitas  pekerjaan  yang  diselesaikan  oleh  individu,  kelompok  atau organisasi”.  Adapun  yang  dikatakan  oleh  As’ad  (1991:  47)  bahwa  kerja adalah “sebagai hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk  pekerjaan  yang  bersangkutan”.  Disampaikan  pula  oleh  Suprihanto (1988:7) bahwa prestasi kerja seorang karyawan pada dasarnya adalah hasil kerja  seorang  karyawan  selama  periode  tertentu  dibandingkan  berbagai kemungkinan,  misalnya  standar,  target/sasaran  atau  kriteria  yang  telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Siagian (1995:136) berpendapat bahwa : Ditinjau dari segi keprilakuan, kepribadian seseoarang sering menampakan dirinya dalam berbagai bentuk sikap,  cara  berfikir  dan  cara  bertindak  dalam  berbagai  hal  yang mempengaruhi  kepribadian  seseorang  manusia.  Organisasi  yang  tercermin dalam prilakunya pada gilirannya akan berpengaruh terhadap prestasi kerja.
Menurut  Purwadarminto  (1991:708)  Prestasi  Kerja  adalah  hasil  yang dicapai  (dari  yang  telah  dilakukan,  dikerjakan  dan  sebagainya). 
Sedangkan  menurut  Heidjrachman  (1990:188)  “Prestasi  kerja  ditafsirkan  sebagai  arti penting suatu pekerjaan, kemajuan dan tingkat penyelesaian suatu pekerjaan. Jadi  dapat  disimpulkan  bahwa  prestasi  kerja  karyawan  adalah  kemampuan karyawan dalam mengerjakan sesuai dengan standar kerja yang berlaku  seperi  mutu  pekerjaan,  volume  pekerjaan,  pengetahuan  kerja, insentif, sikap kerja serta sikap terhadap orang lain.
2.2.1 Pengukuran Prestasi Kerja
Pengukuran  prestasi  kerja  didasarkan  atas  penilaian  prestasi  kerja,  karena penilaian prestasi kerja sebagai proses untuk mengukur prestasi kerja yang  dicapai  oleh  karyawan  dan  dibandingkan  dengan  standar  tingkat prestasi  yang  diminta  guna  mengetahui  sampai  dimana  ketrampilan  yang  ingin  dicapai.  Seperti  yang  dikatakan  oleh  Handoko  (1991:135)  bahwa penilaian kerja adalah proses melalui mana organisasi mengevaluasi/menilai prestasi kerja karyawan. Apabila penilaian itu dilakukan dengan baik, tertib dan  benar  dapat  membantu  meningkatkan  loyalitas  kerja  organisasi  dari  karyawan yang bersangkutan.
Menurut  Hasibuan  (1991:97)  bahwa  penilaian  prestasi  kerja  adalah  menilai rasio hasil kerja nyata dengan standar baik dengan kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan setiap individu karyawan. Sehingga  dapat  dikatakan  dikatakan  bahwa  penialian  prestasi  kerja bagi karyawan perlu dilakuakan karena hal tersebut digunakan sebagai dasar untuk  mengukur  prestasi  kerja.  Sedangkan  pedoman/patokan  dalam mengukur prestasi kerja didasarkan suatu standar.
Sementara Siagian (1995:230) menyatakan bahwa prestasi kerja dapat diukur melalui indikator :
a.       Kualitas
b.      Kuantitas
c.       Pengetahuan tentang pekerjaan
d.      Pendapat/peryataan yang disampaikan
e.       Keputusan yang diambil
f.       Perencanaan organisasi
g.      Daerah organisasi
Berprestasi atau tidaknya seseorang karyawan dapat diketahui melalui  prilakunya  dalam  bekerja,  yang  meliputi  kemandirian,  keaktifan,  dalam memecahkan  permasalahan  yang  dihadapi  dalam  pekerjaannya,  kreatifitas  dan inisiatif serta percaya diri.
Rao (1992:49) berpendapat  bahwa orang  yang  kurang  berprestasi dapat  dikenali  dari  ketergantungannya  yang  berlebihan  pada  orang  lain. Ia pasif alam menghadapi tekanan. Ia senantiasa memerlukan pengawasan dan harus di bujuk serta dipuji pada setiap langkah. Ia tidak mempercayai bakat-bakat  atau  kemampuannya  sendiri.  Ia  tidak  mudah  menunjukan  inisiatif, tidak pula ia bersandar pada wewenangnya sendiri.
Rao (1992:89) berpendapat bahwa prestasi kerja diukur  melalui:
a.  Kecakapan kerja 
b.  Pengalaman kerja 
c.  Inisiatif 
d.  Kreatif 
Pengukuran prestasi kerja dapat berupa standar kerja, berikut adalah
pendapat  dari  Agus  Darma  (1985:139).    Untuk  dapat  mengevaluasi  para pegawai  secara  obyektif  atau  akurat,  kita  harus  mampu  mengukur  tingkat prestasi  kerja  mereka.  Apabila  diterjemahkan  ke  dalam  standar  kerja, pengukuran  seperti  itu  berarti  memberi  kesempatan  bagi  para  pegawai  untuk  mengetahui  tingkat  prestasi  kerja  mereka.  Pengukuran  prestasi  kerja dapat  berfungsi  sebagai  target  atau  sasaran,  sebagai  informasi  yang  dapat digunakan  para  pegawai  dalam  usaha-usaha  mereka  melalui  serangkaian
prioritas tertentu.
Pendapat  lain  dikemukakan  oleh  Handoko  (1985:139)  yaitu  evaluasi prestasi  kerja  memerlukan standar-standar  pelaksanaan kerja  (personal 
standart )  yang  mana  prestasi  diukur  agar  efektif,  standar  kerja  hendaknya  berhubungan  dengan  hasil-hasil  yang  diinginkan  pada  setiap  pekerjaan.
Dalam  upaya  meningkatkan  prestasi  kerja,  sekedar  memiliki  standar  kerja belumlah  cukup.  Para  karyawan  perlu  menyadari  bahwa  mereka memerlukan standar tersebut.
Berdasarkan  pada  pendapat  di  atas  bahwa  untuk  mengukur  prestasi kerja perlu mempertimbangkan kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja dan ketepan  waktu  dalam  menyelesaikan  pekerjaan  yang  disesuaikan  kondisi perusahaan.  Hal  ini  sesuai  yang  diungkapkan  oleh  Agus  Darma  (1986:32) bahwa  hampir  cara  pengukuran  pengukuran  prestasi  kerja  karyawan mempertimbangkan kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu. 
2.2.2  Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Kerja
Prestasi  kerja  banyak  dipengaruhi  oleh  banyak  faktor-faktor  yang dalam  pekerjaannya  itu  sendiri,  faktor-faktor  tersebut  meliputi  :  Gaji  atau  upah,  pengakuan  hubungan  antar  pribadi,  kondisi  kerja,dan  sebagainya. Oleh  karenanya  untuk  dapat  meningkatkan  prestasi  kerja  karyawan  dapat dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatkan faktor-faktor tersebut.
Sehubungan  dengan  aktivitas  organisasi  untuk  mencapai  prestasi kerja, Gibson (1994;420) mengemukan bahwa “hubungan antara manajemen organisasi  dan  keefektifannya  sebaiknya  bersifat  terbuka,  individu  dan  kelompok  yang  efektif  dan  prestasi  organisasi  harus  bersumber  pada perencanaan,  pengorganisasian,  kepemimpinan,  dan  pengendalian  yang  baik”.
Disamping pendekatan di atas, pendekatan lain yang dapat digunakan seperti : memudahkan pekerjaan ke pekerjaan yang lain untuk mendapatkan  pesangon  yang  lebih  baik,  atau  dapat  juga  dengan  mengubah  prestasi  atau  harapan  dari  para  pekerjanya  terhadap  pekerjaannya  dengan  memperbaiki dan meningkatkan faktor-faktor tersebut, maka secara otomatis prestasi kerja karyawan  akan  terbentuk.  Hal  ini  mengingat  faktor-faktor  tersebut  adalah  bagian atau aspek dari pekerjaan itu sendiri.
Dari  uraian  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  kondisi  tempat  kerja, hubungan  antar  sesama  rekan  kerja,  kepemimpinan  dan  pengawasan berpengaruh terhadap terbentuknya prestasi kerja karyawan.


2.3.  Hubungan Antara Motivasi dengan Prestasi Kerja
Faktor  tenaga  kerja  tidak  dapat  diabaikan,  bahkan  merupakan  salah  satu  faktor  kunci,  sebab  kesalahan  dan  kekeliruan  yang  terjadi  dapat menyebabkan hambatan-hambatan yang serius, bahkan dapat menyebabkan kegagalan  total.  Motivasi  merupakan  daya  pendorong  yang  menyebabkan karyawan  dapat  bekerja  dengan  giat,  karena  dengan  motivasi  akan menentukan prestasi  seseorang. Hal ini sependapat dengan Reksohadiprojo (1988:169) bahwa motivasi sebagai sesuatu yang menyebabkan, menyalurkan serta  melestarikan  prilaku  seseorang.  Hal  ini  merupakan  salah  satu  syarat kemampuan  kepemimpinan  seorang  manajer;  seseorang  manajer  harus memotivasi,  mempengaruhi,  mengarahkan  dan  berkomunikasi  dengan bawahan.  Bawahan  yang  dimotivasi  dapat  meningkatkan  prestasi  dan kepuasan bekerjanya. Motivasi  yang  diberikan  atasan  (pimpinan)  kepada  karyawannya haruslah  tepat  karena pemberian motivasi ini akan mempengaruhi prestasi kerja  karyawan.
Seperti  yang  dikatakan  oleh  Ranupandojo  dan  Husnan (1996:197) bahwa menjadi salah satu tugas dari seorang pemimpin untuk bisa memberikan  motivasi    (dorongan)  kepada  bawahannya  agar  bisa  bekerja sesuai pengarahan yang diberikan. Sehingga  dari  beberapa  pendapat  diatas  dapat  disimpulkan bahwa motivasi yang diberikan pada karyawan akan mempengaruhi prilaku mereka dalam  bekerja  agar  lebih  tinggi  guna  pemenuhan  suatu  harapan  yaitu pemenuhan  akan  prestasi  dalam  bekerja  sebab  tercapainya  prestasi  kerja yang tinggi didorong oleh motivasi yang tinggi pula.
2.4. Hipotesis
Hipotesa sering diartikan sebagai jawaban sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya. Atau kesimpulan sementara berdasarkan teori yang perlu diuji kebenarannya. Menurut Sutrisno Hadi, “hipotesa berasal dari kata “hypo” yang artinya di bawah dan “thesa” diartikan sebagai kebenaran”. Hipotesa atau hipotesis adalah “jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya”­­.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka hipotesa yang bisa penulis rumuskan adalah motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi kerja karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi.
 
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang diambil penulis adalah SMK Muhammadiyah 1 Ngawi di Jalan KH Ahmad Dahlan No.26 Ngawi.
3.2. Identifikasi dan Pengukuran Variabel
Berdasarkan penjelasan pada landasan teori, rumusan masalah serta hipotesis penelitian maka yang menjaid variabel dalam penelitian ini adalah:
1.      Variabel bebas (X): Motivasi
2.      Variabel terikat (Y): Prestasi kerja
Berdasarkan identifikasi variabel penelitian, maka definisi operasional yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Pemberian  motivasi  adalah  pendorong  atau  mendorong  seseorang  untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia bertindak, sehingga jelas mengapa seseorang melakukan tindakan- tindakan  tertentu  dalam  rangka  pemuasan  kebutuhan.  Teori  motivasi  yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow. Dengan demikian indikator-indikator yang dikemukakan oleh  Maslow adalah sebagai berikut :
1.      Pemenuhan kebutuhan fisik, yang meliputi kondisi tempat kerja dan bagi pengukuran dilakukan dengan meminta tanggapan responden.  
2.  Pemenuhan  kebutuhan  rasa  aman,  yang  meliputi  jaminan  social  dan  jaminan hari tua. 
3.  Pemenuhan  kebutuhan  soaial,  yang  meliputi  hubungan  interpersonal dengan atasan dan bahan/kerja.
4.   Pemenuhan  kebutuhan  penghargaan  yang  meliputi  pemberian  bonus,  penghargaan, tanggungjawab dan promosi jabatan. 
5.   Pemenuhan  kebutuhan  aktualisasi  diri,  yang  meliputi  prestasi  dalam    pekerjaan, kesempatan kreatifitas, pertumbuhan dan pengembangan diri.

2.  Prestasi kerja ditafsirkan sebagai arti penting suatu pekerjaan, kemajuan dan tingkat penyelesaian suatu pekerjaan. Berdasar pada pendapat beberapa para ahli, maka peneliti menggunakan pengukuran prestasi yang dikemukakan oleh Rao (1992:89) bahwa indikator prestasi kerja (Y), yaitu  
1.  Kecakapan kerja adalah  efisiensi  dan  tingkat  penyelesaian  serta  kualitas  pelaksanaan  kerja dengan tugas dan tanggungjawabnya. 
2.  Pengalaman kerja dimaksudkan adalah masa kerja dalam bidang  yang sedang ditekuni karyawan pada saat penelitiaan berlangsung.    
3.  Inisiatif adalah rekuensi  gagasan  atau  ide  yang  dikemukakan  oleh  karyawan,  serta perbaikan  metode  atau  sistim  kerja  dalam  suatu  periode  yang  lebih  efisien dan efektif dari sebelumnya.   
4.  Kreatif adalah kemampuan yang dikembangkan oleh karyawan mencari sesuatu cara yang berfungsi untuk meningkatkan mutu produk.   
Kedua variabel di atas kemudian diukur untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (kompetensi) dan variabel terikat (semangat kerja).Untuk mengukur kedua variabel tersebut digunakan instrument pengukuran. Instrument dalam penelitian ini menggunakan skala Likert untuk mengukur kompetensi (X) dan semangat kerja (Y) yang terdiri dari lima alternative jawaban dengan skor nilai seperti pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1
SKOR NILAI PERSETUJUAN
Nomor
Persetujuan
Kode
Skor
1
Sangat Setuju
SS
5
2
Setuju
S
4
3
Kurang Setuju
KS
3
4
Tidak Setuju
TS
2
5
Sangat Tidak Setuju
STS
1

3.3. Populasi dan Pengambilan Sampel
“Populasi merupakan  totalits semua  nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif muapun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota  kumpulan yang lengkap dan jelas  yang ingin  dipelajari  sifat-sifatnya”.[9]
Menurut Singarimbun dan Efendi, “Populasi adalah jumlah  keseluruhan unit analisa yang cirinya akan  diduga”. [10] Populasi dalam penelitian  ini adalah  seluruh guru dan karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi yang berjumlah 86,  terdiri dari 71 orang guru dan 15 orang karyawan.
“Sampel  merupakan himpunan bagian dari populasi.  Sampel harus representatife  dalam arti segala  karakteristik populasi hendaknya tercerminkan pula dalam sampel yang diambil”.[11]Menurut  Sugiyono, “Sampel adalah bagian  dari jumlah dan karakteristik  yang dimiliki oleh populasi tersebut”[12]
Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat  mewakili sebanyak  mungkin karakteristik populasi. Karena jumlah populasi  yang tidak terlalu banyak maka  teknik sampling yang  digunakan dalam penelitian ini  adalah metode sensus yaitu seluruh anggota populasi yang berjumlah 86 orang dijadikan sampel.
3.4. Sumber Data
Data atau informasi dapat digunakan untuk mencari pemecahan permasalahan yang teliti.Purwito  menyatakan bahwa :
Sumber data  pada prinsipnya adalah  asal data yang diperoleh  dalam suatu penelitian. Secara garis besar, berdsaarkan sifatnya maka sumber data atau sumber informasi dapat  diklasifikasi menjadi dua kelompok, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer merupakan sumber pertama atau sumber yang asli dan dikumpulkan secara khusus untuk  menjawab pertanyaan penelitian. Sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data kedua dan seterusnya yang juga dipakai dalam sebuah  penelitian untuk mendukung sumber data primer dalam upaya mengungkap permasalahan penelitian.[13]

Berdasarkan  pendapat Purwito di atas, maka  jenis data yang  digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu data rpimer dan sekunder. Uraian masing-masing  jenis data tersebut adalah  sebagai berikut :
1.      Data Primer
Data primer  dalam penelitian ini  adalah berasal dari penyebaran kuesioner  untuk mengetahui tanggapan tingkat persetujuan responden terhadap pernyataan  yang diberikan yaitu tentang kompetensi dan semangat kerja guru dan karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi,  serta data  tentang profil social dan identifikasi responden, berisi data responden yang berhubungan dengan identitas responden dan keadaan social seperti : Jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan masa kerja dari guru dan karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi.
2.      Data Sekunder dalam penelitian  ini adalah data dari SMK Muhammadiyah 1 Ngawi Mengenai profil sekolah,  sejarah berdirinya sekolah, visi, dan tujuan, struktur organisasi serta data – data lain yang dibutuhkan untuk melengkapi penelitian.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Untuk  memperoleh data yang akurat digunakan alat pengumpul data  yang tepat agar  memperoleh kesimpulan yang tidak menyesatkan. Dalam penelitian ini digunakan tiga meode pengumpulan data, yaitu :
1.      Metode  Kuesioner (Angket)
Arikunto menjelaskan  kuesioner adalah “sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memeperoleh  informasi dari responden  dalam arti  laporan tentnag pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui”[14]. Adapun bentuk kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Di mana kuesioner yang dibagikan sudah diberi alternative jawaban berupa tingkat persetujuan responden terhadap pernyataan dalam kuesioner guna memudahkan  responden dalam memberikan tanggapan.
Kuesioner yang dalam penelitian ini diberikan kepada guru dan karyawan  untuk diisi dengan menjawab pertanyaan  tertulis yang ada  dalam kuesioner dan  memberi nilai persetujuan dari pernyataan yang ada pada kuesioner. Kuesioner ini merupakan media utama untuk mengumpulkan data yang terkait dengan kompetensi dan  semangat kerja.
2.      Metode  Dokumenter
Menurut Arikunto, “metode  documenter adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,  prasasti, notulen rapat, legger, dan sebagainya”[15]. Metode  documenter ini digunakan untuk melengkapi data primer yaitu untuk mendapatkan data sekunder yang berhubungan dengan penelitian seperti teori-teori  yang mendukung penelitian, penelitian  terdahulu, jurnal-jurnal yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan dan lain-lain. Teknik pengumpulan data documenter dalam penelitian ini juga digunakan untuk mencari data tentang  lokasi penelitian yang terdiri dari profil  sekolah, sejarah, visi dan misi, strukuter organisasi, tugas pokok dan fungsi dan lain-lain.

3.6. Teknik Analisa Data
Teknik  analisa data adalah  suatu cara yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Menurut PUrwito, teknik analisa data adalah “Pengorganisasian data, atau juga sering disebut tabulasi data karena proses  tabulasi merupakan salah satu langkah pengolahan data”[16] Jadi setelah data  terkumpul selanjutnya perlu diolah dan  dianalsis untuk  dapat menjawab permasalahan penelitian dan juga hipotesis yang diajukan dalam suatu penelitian. Untuk dapat  menjawab permasalahan dan hipotesis  penelitian tentu saja data yang didapat  perlu diorganisasikan sedemikian rupa sesuai dengan  tuntutan penyajian atau pengolahan statistic. Adapun teknik analisa data  yang diperugnakan dalam penyusunan  skripsi ini adalah :
1.      Metode Kuantitatif adalah “Suatu bentuk penelitian yang analisisnya  menggunakan model analisis statistik”[17]. Metode  kuantitatif pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel kompetensi (X)  dan
a.       Uji Validitas dan Reliabilitas
Pengumpulan data primer dalam penelitian ini menggunakan kuesioner.Seingga sebelum suesioner dibagikan kepada seluruh responden perlu dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitas kuesioner sebagai instrumen penelitian. Adapun uji validitas dan reliabilitas pada penelitian ini akan dilakukan terhadap 30 orang responden.
1)      Uji Validitas
Djoko Purwito menjelaskan bahwa “sebuah instrument dikatakan valid apabila mengungka data dari variabel yang diteliti secara tepat. Sehingga tinggi rendahnya validitas instrument menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variabel yang dimaksud”
Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan Contruct validity, yaitu “alat pengukur dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara skor yang diperoleh pada masing-masing item dengan skor totalnya”. Bila ternyata semua pernyataan berkorelasi signifikan dengan skor totalnya atau pada tingkat signifikan dengan skor totalnya atau pada tingkat signifikasi dibawah 0,05, maka dikatakan alat pengukur tersebut valid (sahih). Uji validitas dalan penelitian dengan bantuan program SPSS (Statistical Package for Science).
2)      Uji Reliabilitas
Menurut pendapat Arikunto dikutip Djoko Purwito, “reliabilitas (kehandalan) dapat diartikan bahwa suatu unstrumen dapat dipercaya untuk dapat dipergunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik”. Uji reliabilitas ini dilakukan terhadap pernyataan-pernyataan yang sudah valid untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran keembali terhadap gejala yang sama. Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai Lpha Cronbach (α) menggunakan bantuan program SPSS. Adapun kriteria uji reliabilitas ini menurut Djoko Purwanto adalah “apabila koefisien α = 0,70 sampai dengan α = 0,80, maka dinyatakan bahwa instrument tersebut reliabilitasnya tinggi”.
b.      Analisa Korelasi Product Moment
Untuk mengetahui hubungan antara kompetensi dengan semangat kerja guru dan karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi, maka digunakan teknik analisa korelasi product moment.Teknik analisa korelasi product moment ini digunakan untuk mengetahui derajat hubungan dan kontribusi variabel bebas (independent) dengan variabel terikat (dependent).Pada penelitian ini hanya mencari korelasi hubungan antara dua variable saja yaitu variable X (kompetensi) dan variable Y (semangat kerja). Adapun rumus korelasi pearsonprosuct moment adalah sebagai berikut :
    
Dimana
rxy     :  koefisien korelasi xy
N     : Jumlah sampel
x      : Skor variabel kompetensi (X)
y      : Skor variabel semangar kerja (Y)
Korelasi product moment digunakan untuk menjelaskan derajat hubungan antara variabel bebas (independent) dengan variabel terikat (dependent) dengan nilai : -1 ≤ rxy≤ 1. Adapun ketentuan untuk manganalisa hasil perhitungan koefisien ini menurut Sugiyono adalah dengan kriteria pada tabel berikut :









Tabel 2
KRITEIRIA PENILAIAN KORELASI
Internal Koefisien
Tingkar Hubungan
00 – 0.199
Sangat Rendah
0.20 – 0.399
Rendah
0.40 – 0.599
Sedang
0.60 – 0.799
Kuat
0.80 – 0.1000
Sangat Kuat

c.       Uji Signifikasi
Uji signifikasi digunakan untuk menguji apakah kompetensi berpengaruh secara signifikan terhadap semangat kerja guru. Pengujian menggunakan uji t dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan
r   = koefisien korelasi pearson
n   = Jumlah data
Adapun ketentuan untuk menguji hipotesis berdasarkan hasil perhitungan uji t ini adalah jika thitung > ttotal maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis kerja diterima.
2.      Metode Kualitatif
Metode kualitatif adalah “suatu bentuk penelitian uang model analisinya tidak menggunakan analisis statistic atau non statistik”.Metode kualitatif ini merupakan suatu metode pembahasan dengan menggunakan analisa dalam bentuk kalimat atau uraian kata-kata yang dapat mencerminkan persoalan yang sedang dibahas. Metode kualitatif pada penelitian ini digunakan untuk menganalisa hasil temuan lain yang didapat pada waktu melaksanakan penelitian. Metode ini digunakan untuk menganalisa hasil observasi yang dilakukan pada lokasi penelitian.Sehingga dapat melengkapi data yang didapatkan dari penelitian yang dilakukan.



[9]Sudjana, metoded Statistika, Tarsito, Bandung, 2005, hal 6.
[10] Masri Singarimbun dan SOfyan Effendi, Metode Penelitian Survai, Pustaka LP3ES, Jakarta , 2006, hal 108.
[11]Sudjana, Op.Cit, hal. 7
[12]Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Keempat, Alfabeta. Bandung, 2002, hal 116.
[13] A.R. Djoko Purwito, Metodologi Penelitian, Pendekatan Praktis untuk  Bidang Ilmu Ekonomi dan Ilmu Sosial,  LPM Universitas Soerjo Ngawi, Ngawi, 2011, hal 53.
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 2006, Hal. 139
[15]Ibid, hal 152.
[16]Ibid, hal. 69.
[17]Ibid, hal. 8.

BAB IV
HASIL PEPEMBAHASAN
4.1 SMK MUHAMMADIYAH 1 NGAWI
A.    IDENTITAS SEKOLAH
a.       Nama Sekolah                 : SMK MUHAMMADIYAH I NGAWI
b.      Tingkat/Status sekolah    : Swasta
c.       Alamat Sekolah               : Jln. KH. Ahmad Dahlan No.26
d.      Desa                                 : Margomulyo
e.       Kecamatan                       : Ngawi
f.       Daerah/Kabupaten           : Ngawi
g.      KodePos                          : 63217
h.Status Akreditasi                : Terakreditasi “B”
i.        NSS / NDS                      : 344050901004 / 4305190501
j.        No. SK Pendirian                        : 4607/II.15/JTM.80/1998
k. Kegiatan PMB                   : Pagi
l.        Penyelenggaran               : MajelisDikdasmen PDM Kab. Ngawi
m.    Nomor Telpon/ faximille :  ( 0351 ) 747300
n.      e-mail                               :  smkmuh1ngawi@yahoo.co.id
SMK Muhammadiyah 1 Ngawi mempunyai 3 program keahlian, diantaranya adalah:
1.      Administrasi Perkantoran
2.      Akuntansi
3.      Teknik Kendaraan Ringan

4.2  VISI, MISI DAN TUJUAN SMK MUHAMMADIYAH 1 NGAWI
v  VISI
Terwujutnya insan yang cerdas, mandiri dan berakhlak mulia
v  MISI
1.      Memperdayakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang professional sesuai dengan tuntutan jaman.
2.      Menanamkan percaya diri, meningkatkan ketrampilan dan
menguasai teknologi.
3.      Menanamkan aqidah yang kuat, meningkatkan pemahaman. Penghayatan dan pengamalan ajaran agama islam.
Dengan pernyataan misi tersebut, diharapkan seluruh pegawai, guru dan pihak yang berkepentingan dapat mengenalinstitusi / lembaga Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 1 Ngawi dan mengetahui peran, program-program serta hasil yang  akan dicapai diwaktu akan datang.
Dari visi dan Misi di atas harapan kedepan untuk Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 1 Ngawi:
a.       Menumbuhkan semangat keunggulan dan kompetitif secara intensif kepada seluruh warga sekolah.
b.      Melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara optimal yang berorientasi kepada pencapaian kopentensi berstandar nasional bahkan internasional dengan tetap mempertimbang kanpotensi daerah yang dimiliki oleh peserta didik
c.       Menumbuh kembangkan penghayatan pemahaman ajaran islam dan budaya sebagai sumber kearifan dalam bertindak
d.      Meng hasilkan lulusan  yang  siap pakai, berproduktif, berjiwa nasional dan berwawasan global yang didasari ilmu pengetahuan
e.       Menciptakan iklim akademik dan pengajaran di sekolah dengan meningkatkan etoskerja, disiplin dan kompetensi.
f.       Mengembangkan system belajar berganda di semua bidang produktif dalam penerapan tehnologi dan informatika.
g.      Mengembangkan dan mengintensifkan hubungan sekolah dan duniausaha/dunia industry serta instansi lain yang telah memiliki reputasi nasional maupun internasional, sebagai prinsip demon riven.
h.      Memberikan bekal dasar kepada tamatan untuk mengembangkan dirinya secara berkelanjutan.
i.        Misi sekolah Menengah Kejuruan SMK Muhammadiyah 1 Ngawi adalah mencetak anak didik menjadi tenaga terampil (professional) dibidang :
a.       Akuntansi
b.      AdministrasiPerkantoran / Sekretaris
c.       TeknikMekanikOtomotif


v  TUJUAN SEKOLAH
            Meningkatkan kualitas mutu pendidikan yang mengacu pada Visi dan Misi di atas, maka tujuan SMK Muhammadiyah 1 Ngawi  adalah sebagai berikut :
a.       Mengembangkan system kurikulum sesuai tuntutan jaman yaitu Kurikulum     Tingkat SatuanPendidikan( KTSP ).
b.      Meningkat kanjumlah dan kualifikasi tenaga kependidikan sesuai dengan tuntutan program pembelajaran yang berkualitas.
c.        Menumbuh kembangkan kemandirian dan tanggung jawab pesertadidik dalam mengikuti pembelajaran serta mengoptimalkan kemampuan, bakat, minat dan atau potensi yang ada pada peserta didik dalam bidang keilmuan, seni, olahraga dan keagamaan.
d.      Meningkatkan pelaksanaan ekstra kurikuler unggulan sesuai dengan potensi dan minat siswa.
e.       Meningkatkan dan mengembangkan wawasan bagi warga sekolah dalam rangka mengembangkan kultur  sekolah  yang dapat menciptakan proses pembelajaran yang mengasyikkan dan menyenangkan.
f.       Memfasilitasi kecepatan belajar, irama belajar maupun gaya belajar peserta didik secara individual dankelompok.
g.      Meningkatkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, potensi dan sumber daya yang diimiliki untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi peserta didik sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas internasional.
4.2 Pengujian Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data primer pada penelitian ini menggunakan kuesioner. Oleh karena itu sebelum dibagikan kepada seluruh responden, perlu dilakukan pengujian yang meliputi uji validitas dan reliabilitas terhadap butir-butir pernyataan yang ada pada kuesioner sebagai instrument penelitian. Uji validitas dan reabilitas ini dilakukan terhadap 6 orang responden untuk mengetahui kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) instrumen tersebut. Hasil penyebaran kuesioner untuk uji validitas dan reliabilitas instrument penelitian variable motivasi (X) dapat dilihat pada table 3 sebagai berikut:











Tabel 3
TABULASI PENYEBARAN KUESIONER UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS


Responden
Item Pernyataan Motivasi

Total
1
2
3
4
5
1
4
4
4
4
3
19
2
4
3
5
5
4
21
3
3
4
3
4
3
17
4
3
4
4
4
4
19
5
3
3
3
3
3
15
6
4
4
4
4
5
21
Jumlah
21
22
23
24
22
112
Sumber : Hasil Olah Data
Berdasarkan data pada table 3 di atas dilakukan uji validitas data dengan bantuan program SPSS 17.0 dan diperoleh hasil seperti pada table 4, adapun perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2.
Tabel 4
UJI VALIDITAS VARIABEL MOTIVASI

Item Pernyataan
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Keterangan
Item 1
0,620
0,000
6
Valid
Item 2
0,528
0,002
6
Valid
Item 3
0,756
0,000
6
Valid
Item 4
0,625
0,001
6
Valid
Item 5
0,669
0,000
6
Valid
Sumber : Hasil Olah Data SPSS 17.0
Hasil perhiitungan uji validitas variable motivasi di atas menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan yang digunakan dalam kuesioner penelitian bernilai signifikan karena nilainya kurang dari 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan seluruh item pernyataan yang digunakan dalam instrument penelitian ini adalah valid.
Langkah selanjutnya uji validitas terhadap variable prestasi kerja. Prosedur pengujian instrument penelitian pada variable ini sama dengan variabel motivasi yang telah dilakukan. Hasil penyebaran kuesioner terhadap 6 orang responden yang dilakukan diperoleh hasil seperti pada table 4.
Tabel 5
TABULASI PENYEBARAN KUESIONER UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS VARIABEL PRESTASI KERJA

Responden
Item Pernyataan Prestasi Kerja
Total
1
2
3
4
1
4
5
5
4
18
2
5
4
5
4
18
3
4
4
4
3
15
4
5
4
3
5
17
5
4
5
4
5
18
6
4
5
4
4
17
Jumlah
26
27
25
25
103
Sumber : Hasil Olah Data
Berdasarkan pada table 5 di atas dilakukan uji validitas data dengan bantuan program SPSS 17.0 dan diperoleh hasil seperti pada tabel 6, adapun perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Tabel 6
UJI VALIDITAS VARIABEL PRESTASI KERJA

Item Pernyataan
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Keterangan
Item 1
0,801
0,000
6
Valid
Item 2
0,542
0,001
6
Valid
Item 3
0,641
0,000
6
Valid
Item 4
0,624
0,000
6
Valid
Sumber : Hasil Olah Data SPSS 17.0
Hasil perhitungan uji validitas variabel prestasi kerja di atas menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan yang digunakan dalam kuesioner penelitian bernilai signifikan karena nilainya kurang dari 0,05. Dengan demikian dapat dinyatakan seluruh item pernyataan yang digunakan dalam instrument penelitian ini adalah valid.
Setelah instrument penelitian pada masing-masing variabel dinyatakan valid maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan dengan menghitung nilai Alpha Cronbach menggunakan bantuan program SPSS. Hasil perhitungan uji reliabilitas ini dapat dilihat pada tabel 7, sedangkan perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.



Tabel 7
HASIL UJI RELIABILITAS

Variabel
Nilai Alpha Cronbach
Keterangan
Motivasi
0,718
Realibel
Prestasi Kerja
0,728
Realibel
Sumber : Hasil Olah Data SPSS 17.0
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 7 diketahui bahwa nilai Alpha Cronbach berada diantara 0,70 - 0,80 sehingga dapat dinyatakan bahwa instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel motivasi dan prestasi kerja sudah reliabel. Artinya bahwa instrument penelitian ini sudah dapat dipercaya dan diandalkan untuk mengukur variabel motivasi. Dengan demikian instrumen penelitian tersebut dapat digunakan untuk mengumpulkan data primer yang akan digunakan dalam olah data statistic guna menguji hipotesis yang diajukan.

4.3 Analisis Hasil Penelitian
Setelah diketahui instrumen penelitian sudah valid dan reliabel, maka langkah selanjutnya adalah membagikan kuesioner kepada seluruh reponden. Berdasarkan hasil pembagian kuesioner diketahui data karakteristik responden sebagai berikut:
1)         Karakteristik responden berdasarkan umur
Hasil pembagian kuesioner yang dilakukanmenemukan karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi paling banyak pada rentang umur antara 25 – 35 tahun yaitu sebesar 50,00%. Sedangkan jumlah responden terendah adalah pada umur diatas 35 tahun, yaitu sebanyak 1 orang atau sebesar 1, 16,67%. Data selengkapnya mengenai karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN UMUR
Umur
Jumlah
Prosentase
< 25 Tahun
2
33,33%
< 25 – 35 Tahun
3
50,00%
>35 Tahun
1
16,67%
Total
6
100,00%
Sumber : Hasil Olah Data

2)         Karakteristik responden berdasarkan kelamin
Hasil pembagian kuesioner yang dilakukan menemukan bahwa karyawan SMK Muhammadiyah 1 Ngawi lebih banyak berjenis perempuan yaitu sebesar 66,67%%. Sedangkan responden dengan jenis kelamin laki-laki adalah sebesar 33,33%. Data selengkapnya mengenai karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 9.





Tabel 9
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JENIS KELAMIN
Jenis Kelamin
Jumlah
Prosentase
Laki-laki
2
33,33%
Perempuan
4
66,67%
Total
6
100,00%
Sumber : Hasil Olah Data

3)         Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan
Hasil pembagian kuesioner yang dilakukan menemukan bahwa karyawan SMK Muhammadiyah 1 Ngawi paling banyak telah menyelesaikan pendidikan sarjana atau S1 yaitu sebesar 50,00%. Sedangkan responden paling sedikit adalah pada tingkat pendidikan bertaraf SMA/SMK yaitu hanya 2 orang saja atau sebesar 33,33%. Data selengkapnya mengenai karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN

Tingkat Pendidikan
Jumlah
Prosentase
SMA/SMK
2
33,33%
D3
1
16,67%
S1
3
50,00%
Total
6
100,00%
Sumber : Hasil Olah Data
4)         Karakteristik responden berdasarkan masa kerja
Hasil pembagian kuesioner yang dilakukan menemukan bahwa karyawan SMK Muhammadiyah 1 Ngawi paling banyak memiliki masa kerja di atas 10 tahun yaitu sebesar 54,00%. Sedangkan responden paling sedikit adalah pada masa kerja di bawah 10 tahun yaitu sebesar 33,00%. Data selengkapnya mengenai karakteristik responden berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN MASA KERJA

Masa Kerja
Jumlah
Prosentase
< 5 Tahun
3
50,00%
6 – 10 Tahun
2
33,33%
>20 Tahun
1
16,67%
Total
6
100,00%
Sumber : Hasil Olah Data
Langkah selanjutnya dalam analisis data penelitian ini adalah melakukan tabulasi terhadap skor tanggapan responden pada kuesioner yang dibagikan. Tabulasi data untuk variabel motivasi adalah seperti tabel 12.





Tabel 12
TABULASI DATA VARIABEL MOTIVASI (X)


Responden
Item Pernyataan Motivasi

Total
1
2
3
4
5
1
4
4
4
4
3
19
2
4
3
5
5
4
21
3
3
4
3
4
3
17
4
3
4
4
4
4
19
5
3
3
3
3
3
15
6
4
4
4
4
5
21
Jumlah
21
22
23
24
22
112
Sumber : Hasil Olah Data
Berdasarkan pada tabel 12 di atas, dapat diketahui bahwa tanggapan responden dengan skor tertinggi adalah pada.
Langkah selanjutnya adalah membuat tabulasi data skor tingkat persetujuan untuk variabel prestasi kerja. Berdasarkan hasil pembagian kuesioner yang dilakukan dapat dibuat tabulasi seperti pada tabel 13 sebagai berikut:






Tabel 13
TABULASI DATA VARIABEL PRESTASI KERJA (Y)

Responden
Item Pernyataan Prestasi Kerja
Total
1
2
3
4
1
4
5
5
4
18
2
5
4
5
4
18
3
4
4
4
3
15
4
5
4
3
5
17
5
4
5
4
5
18
6
4
5
4
4
17
Jumlah
26
27
26
25
103
Sumber : Hasil Olah Data
Berdasarkan tabel 13 di atas, dapat diketahui bahwa tanggapan responden skor tertinggi adalah pada indicator.

4.4 Pengujian Hipotesis
Untuk mengetahui yang diajukan dalam penelitian ini sudah tepat untuk menjawab perumusan masalah maka dilakukan pengujian hipotesis. Data untuk menguji hipotesis ini adalah seperti pada tabel 14.




Tabel 14
HUBUNGAN ANTAR VARIABEL

Responden
Motivasi (X)
Semangat Kerja (Y)
1
19
18
2
21
18
3
17
15
4
19
17
5
15
18
6
21
17
Jumlah
112
103
Sumber : Hasil Olah Data
Berdasarkan. Data ini kemudian digunakan sebagai data primer yang akan diolah secara statistic untuk mengetahui koefisien korelasi antar variabel yang digunakan. Langkah perhitungan koefisien korelasi menggunakan analisa korelasi product moment adalah sebagai berikut:








Tabel 15
PERHITUNGAN KOEFISIEN KORELASI MENGGUNAKAN ANALISA KORELASI PRODUCT MOMENT

No
X
Y
X2
Y2
XY
1
19
18
361
324
342
2
21
18
441
324
378
3
17
15
289
225
255
4
19
17
361
289
323
5
15
18
225
324
270
6
21
17
441
289
357
Total
112
103
2118
1775
1925
Sumber : Hasil Olah Data
Berdasarkan data pada tabel 15 di atas, maka dilakukan langkah perhitungan menggunakan rumus koefisien korelasi sebagai berikut:
    

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat diketahui nilai koefisien korelasi (rxy) adalah positif sebesar 0,829. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa korelasi antara variabel bebas yaitu motivasi (X) dan variabel terikat yaitu prestasi kerja (Y) adalah positif dan sangat kuat karena nilainya berada antara 0,10 – 1,00.
Hasil perhitungan koefisien korelasi ini digunakan untuk menghitung nilai thitung menggunakan rumus uji t guna mengetahui tingkat signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat. Perhitungan uji t adalah sebagai berikut:
Hasil perhitungan di atas, diketahui nilai thitung adalah sebesar 1,682. Langkah selanjutnya dicari nilai ttabel pada tingkat signifikan α = 0,05. Cara mengetahui nilai ttabel ini adalah sebagai berikut:
            t= table :df = n – 2
             = 6 – 2 = 4
            a= 5%
              = t(a) : df
             = t(0,05) : 4
             = 1,663
Ketentuan perbandingan antara ttabel dan thitung adalah jika thitung > ttabel maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis kerja diterima. Hasil uji t menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 1,682 lebih besar dari nilai ttabel sebesar 0,05. Hal ini berarti motivasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja karyawan SMK MUhammadiyah 1 Ngawi.

4.5 Pembahasan
Pengujian hipotesiss yang telah dilakukan menemukan bahwa hasil perhitungan koefisien korelasi di dapat nilai rxy bernilai positif sebesar 0,829. Hal ini membuktikan bahwa terjadi hubungan positif antara motivasi dengan prestasi kerja karyawan. Dengan demikian, apabila motivasi karyawan semakin tinggi maka prestasi kerja karyawan juga akan ssemakin tinggi. Sebaliknya jika motivasi karyawan semakin rendah, maka prestasi kerja karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi juga akan semakin rendah.
Adapun hasil uji signifikan menggunakan uji t diperoleh hasil bahwa nilai thitung = 1,682 lebih besar dari ttabel= 0,05. Hal ini membuktikan bahwa terjadi hubungan yang signifikan antara motivasi dengan prestasi kerja karyawan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesa kerja yang berbunyi motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi kerja karyawan SMK Muhammadiyah 1 Ngawi terbukti dan diterima kebenarannya.
 
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisa data dan pembahasan, maka dapat ditarik keismpulan bahwa koefisien korelasi antara motivasi dan prestasi kerja karyawan pada SMK Muhammdiyah 1 Ngawi adalah sebesar 0,829.Sedangkan hasil uji t dapat diketahui bahwa thitung sebesar 1,682 lebih besar dari ttabel yaitu sebesar .Jadi hipotesis nol ditolak dan hipotesis kerja diterima.Hal ini berarti hipotesis yang berbunyi kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja guru dan karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi terbukti dan diterima kebenarannya.
5.2. Saran
Saran yang diajukan pada penelitian ini dibuat berdasarkan tanggapan skor dengan nilai tertinggi dan terendah pada maisng-masing variable penelitian. Berdasarkan haisl penelitian yang dilakukan, maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagia berikut:
1.      Skor tertinggi variable motivasi adalah pada indicator pemenuhan kebutuhan penghargaan. Dengan demikian agar karyawan memiliki motivasi yang dapat mempermudah pelaksanaan kerjanya maka perlu diberi kesempatan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
2.      Skor terendah variable motivasi adalah pada indicator pemenuhan kebutuhan fisik. Kurangnya pemenuhan kebutuhan fisik membuat karyawan terganggu kinerjanya. Sehingga diharapkan peningkatan pemenuhan kebutuhan fisaik agar karyawan lebih meningkatkan kinerjanya.
3.      Skor tertinggi variable prestasi kerja adalah pada indicator pengalaman kerja. Dengan demikian karyawan memiliki kesempatan pengalaman kerja yang lebih banyak sehingga secara kinerja dapat memperbaiki untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik.
4.      Skor terendah variabel prestasi kerja adalah pada indikator kreatif. Karyawan pada SMK Muhammadiyah 1 Ngawi perlu ditingkatkan kontribusinya pada sekolah agar perannya dapat lebih bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan lebih sering karyawan dalam semua kegiatan sekolah dengan membagi porsi peran yang sesuai. Seperti pada kegiatan penerimaan siswa baru, karnaval, dan lomba kompetensi siswa. Dan kekratifan karyawan terlihat sesuai porsinya.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi, cetakan kedua belas, PT. Rineka Cipta. Jakarta.
A.R, Djoko Purwito. 2011. Metodologi Penelitian, Pendekatan Praktis Untuk Bidang Ilmu Ekonomi dan Ilmu Sosial. Ngawi:LPM Universitas Soerjo Ngawi.
As’ad, M. 1991. Psikologi Industri : Seni Ilmu SDM. Yogya : Liberti
Dharma, Agus. 1986. Gaya Kepemimpinan yang Efektif bagi Manager. Bandung : CV. Sinar Baru.
Hasibuan, Malayu SP. 1991. Manajemen Sumber Daya MAnausia. Jakarta : Haji Mas Agung.
Heidjrachman dan Suad Husnan. 1992. Manajemen Personalia, Penerbit BPFE Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Manullang. 1981. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Westra, Pariata. 1980. Manajemen Personalia. Yogyakarta : Liberti.
Rao, TV. 1996. Penilaian Prestasi Kerja ; Teori dan Praktek. Jakarta : PT. Pustaka : Binaman. Pressindo.
Reksohadiprojo, Sukamto. 1988. Perencanaan dan Organisasi Perusahaan. Edisi I. Yogyakarta : BPFE.
Siagian, Sondang P, 1995, Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Tarsito. Bandung.
Sugiyono. 1997. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : PT. Alfabeta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar